INTROPEKSI DI BALIK WAJAH AFFANDI

September 24, 2008 pukul 3:18 am | Ditulis dalam Politik | Tinggalkan komentar
Tag:

Pemahanian kita tentang lukisan-lukisan Affandi ternyata masih terbatas pada usaha memahami gayanya yang ekspresionistis – cara ia melukis, kondisi emosinya ketika melukis, kategorisasi perkembangan gayanya dan tema dalam lukisan-lukisannya. Masih sangat kurang upaya mengkaji nilai-nilai yang lebih mendasar di balik lukisan-lukisan Affandi.
Tapi penggalian nilai-nilai itu memang upaya musykil. Affandi bukan seniman yang bisa menguraikan acuan seni lukisnya. Ia bahkan jarang bicara tentang lukisannya. Karena itu, betapa pun kuatnya ekspresi Affandi tampil sebagai fenomena estetik, tidak mudah mendapat konfirmasi ketika fenomena estetik itu mau diteguhkan sebagai buah renungan.
Saya pernah mencoba mendapat konfirmasi itu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk sebuah penulisan, menjelang pameran retrospekstifnya pada tahun 1987. Namun tidak banyak yang saya dapat. Ia, antara lain, menolak anggapan yang paling sering dilontarkan untuk mengkaji nilai-nilai di balik lukisannya, yaitu ia seorang humanis. “Saya selalu ingin menjadi humanis, tapi tidak punya kemampuan. Yang saya punya cuma perasaan sentimentil, cinta pada orang.”
Kendati ia sering melukiskan manusia dan berbagai masalah di baliknya, Affandi menyatakan tak punya pendapat tentang masalah eksistensi manusia. Ia bahkan mengatakan punya kecenderungan untuk tidak berpendapat karena berpendapat akan selalu punya resiko untuk berberja pendapat dengan orang lain, “Padahal saya tidak mau menyakiti perasaan orang lain,” katanya.
Perkiraan saya yang dibenar¬kannya, manusia dalam karya-¬karyanya adalah “manusia di tengah alam,” atau bagian dari alam. “Saya sebetulnya seorang naturalis sejati,” katanya tegas. “Saya cinta pada semua yang natural.”
Di alur ini, Affandi tiba tiba bisa memberikan penjelasan gamblang. Sebagai “naturalis sejati” ia percaya bahwa di balik semua obyek alam ada sejumlah tanda yang menunjukkan spirit kehidupan. “Saya mau tangkap tanda tanda ini, tanda tanda kekuatan alam, tapi tidak pernah bisa komplet. Saya selalu coba, tapi selalu gagal.” katanya. “Waktu melukis saya selalu mau menjadi satu dengan obyek yang saya lukis. Saya kehilangan diri saya, lalu ada perasaan muncul, seperti perasaan mau berkelahi.”
Konfirmasi Affandi itu memper¬lihatkan bingkai acuan seni lukis¬nya. Namun masih kabur untuk digunakan memahami nilai nilai di balik karyanya. Nyaris tak berarti dibandingkan dengan fenomena estetik yang terpancar kuat dari karya karyanya. Mestinya ada makna yang lebih dalam pada pemyataannya, “Saya sebetulnya seorang naturafts sejati.”
Pameran “Introspeksi di Balik Wajah Affandi,” ini adalah upaya untuk lebih memahanii pernyataan Affandi itu. Materi kajiannya adalah lukisan potret diri Affandi, yang secara tetap dibuatnya sejak tahun 1940’an sampai 1988, dua tahun sebelum ia meninggal. Ndak ada data berapa potret diri yang sebenarnya telah dibuatnya. Namun yang berhasil dikumpulkan untuk pengkajian dan pameran ini, ada sekitar 50 lukisan dengan rentang waktu 50 tahun, antara 1938 1988.
Tekanan pada pengkajian ini adalah potret diri Affandi yang dibuat antara 1940 1950. Menu¬rut pendapat saya pada masa inilah Affandi membentuk acuan seni lukisnya. Pada masa ini terjadi peralihan gaya dari corak yang masih representatif ke corak yang ekspresif.
Perkembangan seni lukis Affandi pada perlode 1940 1950 menunjukkan pula kecenderungan yang MDUL/highly individual. MDNM/. Berbeda dengan pelukis¬pelukis seangkatannya yang sangat dipengaruhi masalah sosial, Affandi mulai dengan dirinya sendiri. Ia menyerap masalah sosial yang bergolak di sekitarnya dengan menjadikannya masalah pribadi.
Pada perkembangan 1940 1950 lukisan lukisannya yang terbanyak adalah protret keluarga. Potret diri, potret ibunya, isterinya dan terutama anaknya Kartika Koberl. Sejumlah potret diri Affandi antara tahun 1940 1950 adalah potret diri bersama Kartika.
Kartika, sosok istimewa pada kehidupan Affandi dan ini tercer¬min kuat pada lukisan lukisan Affandi pada tahun 1940’an. Kartika juga satu satunya pelukis yang mempunyai kesempatan mengadaptast seni lukis Affandi melalui keakaraban hubungan ayah anak. Tanpa. hubungan ini mustahil mempelajari seni lukis Affandi karena Affandi tak pernah bisa mengajarkan seni lukisnya kepada siapa pun.
Karena itu saya mengembang¬kan materi kajian dengan menyer¬takan potret Kartika yang dilukis Affandi. Juga potret Affandi yang dibuat Kartika dan potret diri Kartika sendiri. Pernyataan pernyataan Kartika tentang acuan potret dirinya sangat mungkin berlaku pula bagi potret diri Affandi. Banyak fenomena estetik pada potret diri Affandi menjadi jelas melalui Kartika dan karya¬-karyanya.
Pertimbangan lain mengambil periode 1940 1950 sebagai dasar pengkajian adalah terdapat acuan estetik yang bisa dijadikan dasar kajian, yaitu pemikiran di sekitar perubahan acuan representatif ke ekspresif, dalam perkembangan seni rupa modern.
Perkembangan pemikiran estetik itu dimulai, sekitar 1940’an, melalui kecenderungan seni lukis pra Perang Dunia II, yang dikenal sebagai Depression Paris, menerus sampai tanda tanda kemunculan abstrakisme di Amerika. Pada tahun 1956, E.H Gombrich me¬nyimpulkan seluruh proses pemikiran estetik itu. Ini mengu¬kuhkan perkembangan abstrak ekspresionisme.
Terdapat dasar yang kuat untuk mengkaji Affandi melalui acuan estetik itu. Ketika pemikiran estetik itu sedang ramai dipersoal¬kan, pada awal tahun 1950’an Affandi berkelana dan berpameran di Eropa. Lukisan lukisannya ternyata menarik perhatian para kritikus. Kendati tidak bisa diketa¬hui dengan pasti apa tanggapan kritikus kritikus itu, besar ke¬mungkinan seni lukis Affandi adalah salah satu fenomena estetik bagi perubahan kecenderungan representatif ke ekspresif. Kecende¬rungan ini sendiri memang nyata terjadi pada seni lukis Affandi, walau proses ini bukan akibat persentuhan dengan perkembang¬an seni lukis di Eropa.
Ketika Affandi berkelana di Eropa pada awal 1950 an, acuan seni lukisnya sudah terbentuk. Pada tahun 1943, ketika melukis potret diri Affandi menemukan teknik melukis dengan jari jarinya, tanpa kuas. Pada penemuan ini terlihat sekaligus perubahan besar lukisan lukisan Affandi dari kecenderungan representatif menjadi sangat ekspresif. Sejak lukisan Potret Diri 1943 itu. Affandi selalu melukis dengan tangan dengan cara yang sangat emosio¬nal. Lukisan lukisan dengan corak ini pula yang dibawanya ke Eropa dan mendapat perhatian para kritikus.
Perhatian para kritikus itu tidak terbatas pada resensi atau kritik. Sesudah pamerannya di Amsterdam tahun 1952, ada di antara para kritikus itu yang lebih jauh ingin menerbitkan buku tentang Affandi. Ini bisa dikaji pada surat Affandi kepada kawan¬nya, wartawan J. Muh. Arsath Rois, pada akhir 1952 yang ditulisnya dalam bahasa campuran, Indone¬sia, Belanda dan Sunda. Petikannya: Vroeger heb ikje geschreven tentang seorang Belanda dan Sticusa arek uitgeven boekoe tentang ik. Nepi ka qjeuna ik boengkem, poera poera teu narima eta surat. Handjakal handteekeningna onleesbaar. Tapi adresna eta peroesahaan kieu: Saturnus Reeks. Postbus 27, Laren N.H.
leu djelma geus aja contact met H.V.Boheemen v1d Sticusa. Sadja bana hal ieu. Sticusa oge menta reproductie recht ka ik, teu diwalonan suratna. Dus je weet nu Is, hoe die menschen op my azen. Sayang rencana penulisan buku itu tak pernah menjadi kenyataan karena Affandi meng¬hindar. Dalam kutipan surat di atas terlihat Affandi curiga, penu¬lis penulis Belanda yang menghu¬bunginya, punya niat memegang hak penjualan lukisannya. Kepada Arsath Rois, ia mengutarakan, “tetapi harap sdr dapat menyeli¬diki sendiri hoe de zaak in Omar zit. Sdr. harus hati hati tjara njelidikinya. Belanda terlalu litjin.”
Pada kenyaataannya bukan cuma kritikus Belanda yang tertarik secara serius pada seni lukis Affandi. Lukisan lukisan Affandi kembali menarik perhatian ketika ia mengikuti Sao Paolo Biennale 1953. Menurut catatan Affandi sendiri, kritik yang ditulis tentang biennale di Brasil ini, menyinggung secara khusus lukisan lukisannya. Pelukis Indonesia lain, antara lain Soedjo¬jono, Basuki Resobowo dan Hendra Gunawan tidak mendapat perhati¬an karena masing masing mengirimkan hanya dua lukisan.
Sampai kini belum dilakukan penelitian bagaimana kedudukan Affandi di Biennale Sao Paolo. Belum ditelusuri pula dokumen dokumen yang bisa menunjukkan apa tanggapan para kritikus tentang karya Affandi, nilai apa yang mereka lihat dan dengan? dasar acuan estetik apa karya karya Affandi dikaji.
Namun ada bukti kuat, karya-¬karya Affandi mendapat perhatian serius. Penampilannya di Sao Paolo Biennale membuat ia diundang untuk mengtkuti Venice Biennale yang dikenal sebagai forum internasional paling berwi¬bawa dalam perkembangan arus utama seni rupa dunia. Hampir semua seniman besar yang tampil dalam perkembangan di arus utama seni rupa modern dunia, memulai debutnya di sini.
Sekeftaris Jendral Venice Biennale, Prof Ruddifo Palluchini, selain mengirim undangan kepada. Affandi, menulis surat kepada duta besar kita di Roma, waktu itu Sukardjo Wiriopranoto. Palluchini sangat berharap Affandi bisa mengikuti Venice Biennale yang waktu itu kebetulan mengambil tema ekspresionisme. Petikan surat Palluchini:
I have just come back from Brazil, where I have been as Italian Commissary and as a member of the jury, at the 2nd Biennale of Sao Paolo, and I wish to tell you how intersting the stand of your country has been for me.
This is why I would like the “Expresiziono Internazionale Biennale d’Arte” at Venezia to be the first to show to Italy such a high level artist as Affandi.
Konon, Affandi jadi mengikuti Venice Biennale yang diselengga¬rakan pada tahun 1954. Ia bahkan memenangkan kompetisi. Memang, kehadiran Affandi di Venice Biennale lagi lagi masih perlu diteliti karena catatan yang ada hanya Affandi mendapat hadiah di Venezia. ndak ada data Jelas, apakah ia memenangkan kompetisi Venice Biennale atau mendapat hadiah pada pameran lain di Venezia (Venice). Bila benar Affandi memenangkan kompetisi Venice Biennale, ini sebuah pertanda luar biasa. Semua seniman besar yang tampil lewat Venice Biennale, pernah memenangkan kompetisi ini. Namun lepas dari benar tidaknya kesertaan Affandi pada Venice Biennale, undangan dan surat Palluchini, sudah merupakan sebuah pertanda yang kuat.
Artinya dugaan kita menjadi semakin kuat bahwa sebenarnya ada fenomena estetik yang layak di gali di balik lukisan lukisan Affandi. Fenomena estetik ini pula yang menarik perhatian para kritikus di Eropa dan juga ahli estetika yang sedang menegakkan prinsip prinsip peralihan kecende¬rungan representatif ke ekspresif.
Dan yang kita ingin tahu bila benar seni lukis Affandi masuk dalam kajian para ahli estetik itu bagaimana para ahli estetik menganalisa seni lukis ekspresio¬nistis Affandi yang didasarkan “persepsi Timur.”
Ini sangat mungkin adalah kesimpulan yang hilang dalam teori teori tentang ekspresionisme. Mengkaji pengaruh seni Timur pada kecenderungan melukis ekspresif, sebenarnya sudah dirintis sejak awal Abad ke 20. Terlihat paling tidak pada pengga¬lian teori teori estetika Goethe, yang dasarnya adalah ketertarikan pada semangat dan spontanitas suku bangsa primitif. Juga pengaruh karya karya grafis Jepang pada sejumlah pelukis Eropa pra Perang Dunia II.
Sangat mungkin dalam konteks itu lukisan Affandi yang dipamerkan di Eropa awal 1950’an menjadi gejala menarik bagi para kritikus. Ia datang dari luar pusat perkem¬bangan seni rupa modern dan sama sekali tidak terikat pada prinsip prinsip modernisme dan tradisi avant garde. Affandi bahkan tidak paham prinsip prinsip ini. Di sisi lain, persepsi kesenian Affandi diasumsikan sangat dipengaruhi prinsip prinsip kesenian Indonesia (tradisional) yang memiliki bingkai acuan yang berbeda. Namun penampilan lukisan lukisannya sama sekali tidak memperlihatkan tanda tanda ketradisionalan. Lukisannya ekspresif dan terlihat mengikuti acuan modemisme.
Tidak ada data yang pasti lukisan apa saja yang dipamerkan Affandi di Eropa. Namun dari ca¬tatan Affandi yang tercecer, ada beberapa lukisan yang diketahui dibawanya ketika berkelana Di Eropa. Lukisan lukisan itu adalah Potret Diri, 1952 (dibuat di Ams¬terdam) Kartika berdiri, 1950 (belakangan judulnya diganti, Pelukis dan Anaknya), Potret Diri dengan Tujuh Matahari, I950 (dibuat di India), Perkawinan Anak Saya (tidakjelas tahun pembuat¬annya), Saya Bekerja (Potret diri Affandi dengan latar belakang ke¬luar yang juga tidak jelas tahun pembuatannya), Wanita Telanjang dan Dua Kucing (juga tidak jelas tahun pembuatannya), dan Sebuah kota di India, 1950.
Debut Affandi di Eropa itu, sedikit banyak mengesahkan upaya pengkajian lukisan lukisan¬nya melalui acuan estetik yang menjadi isu di Eropa dan Amerika pada tahun 1950’an. Pengkajian semacam ini pula yang akan dilakukan pada kritikus di Eropa, misalnya perhatian pada lukisan-¬lukisan Affandi berlanjut.
Dari pengkajian acuan acuan estetik yang beredar pada masa itu, ada sebuah pemikiran yang me¬nurut saya bisa dijadikan acuan mengkaji fenomena estetik lukisan¬lukisan Affandi. Pemikiran itu, renungan ahli estetik Curt. J. Ducasse, yang pada tahun 1944 diterbitkan sebagai buku Art, the Critics and You.
Yang segera menarik perhatian saya, salah satu bagian dari pemikiran Ducasse yang dituliskan sebagai esei di bawah judul The Art of Personal Beauty. Sebuah alineanya:
Man is animal who is not satisfied with merely living his life, but who is capable of and insist upon watching himself doing it. He not only is, acts, feels, and knows; but, unlike any other animal, he is insatiably curios to observe his body, his actions, his feelings, and his thoughts.
When he does this, however, he is seldom wholly satisfied with what he finds. Nature, he dicovers, has been both niggardly and clumsy in the appearance it be¬stouied upon him, and likewise in the tallents, virtues, and powers with which it equipped him. Therefore, no sooner does he get a good look at himself than he takes steps to effect, as best he cart, changes for better.
Ingatan saya langsung mela¬yang ke potret potret diri Affandi dan sebuah anekdote yang dicerita¬kan Kartika. Konon Affandi suka melukis potret diri karena ia menganggap wajahnya jelek. Ini disadarinya ketika di masa penja¬jahan Belanda pada tahun 1930’an ia tidak diperbolehkan masuk ruang pameran di Bandung. Padahal ada keinginan besar untuk melihat lihat lukisan yang dipa¬merkan yang bagi Affandi adalah cara untuk belajar. Menurut Kartika, inilah awalnya Affandi mengamati wajahnya sendiri dan melukiskannya, sambil bertanya, ada apa di wajahnya, sampai ia diusir. Ia tidak suka pada wajah¬nya, tapi itulah realitas.
Tidak sulit mengaitkan anekdote itu dengan kutipan tulisan Ducasse. Melalui wajahnya, Affandi menghadapi sebuah realitas sosial. Pada masa penjajahan Belanda, wajahnya yang menampilkan citra rakyat dan pribumi, adalah bagian dari realitas sosial di mana hak¬-haknya sebagai manusia, didiskri¬masikan secara kasar. Persoalan wajah ini, membawa masalah yang kompleks.
Seperti Ducasse, kita berima¬jinasi, Affandi ingin mengubah wajahnya. Menurut Ducasse, memanipulasi wajah dan penam¬pilan lewat sejumlah perangkat kosmetik, busana, perilaku adalah jalan pintas yang lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan mengubah realitas.
Affandi punya kesempatan besar. Ia tidak cuma menghadapi cermin, tapi juga seni lukis yang total berada di bawah kekuasaan¬nya. Dalam lukisan ia bisa mengu¬bah wajahnya jadi menyerupai Gubernur Jendral Belanda kalau ia mau. Namun, kita berimajinasi, Affandi bertanya, “Apakah potret ini masih potret Affandi ?”
Mau tidak mau Affandi harus kembali ke realitas. Namun ia tidak mencari jawaban melalui renungan politis. Ia memang tidak pernah akrab dengan bidang ini. Realitas sosial yang dihadapinya, dianggapnya sebagai bagian dari alam kehidupan. Dalam konteks ini ia merasa bisa melawan, melayani desakan itu dengan reaksi spiritual. Melalui seni lukis dan imajinasinya ia merasa punya kemampuan untuk bertahan.
Menurut cerita Kartika, kemarahan Affandi akibat pengusiran di galeri di Bandung itu melahirkan tekadnya untuk maju. Muncul keinginan kuat untuk mengembangkan sendiri seni lukisnya. Dengan kata lain Affandi berusaha mengembangkan kepribadiannya yang berkaitan langsung dengan need of achievement.
Maka anekdote tentang wajah jelek itu ternyata menyimpan sebuah hakikat yang sangat penting dalam pembentukan acuan seni lukis Affandi.
Pada masa. itu, Affandi memang banyak berurusan dengan wajah. Kecenderungan seni lukisnya waktu itu adalah melukis potret. Maka tidak aneh bila ia menghu¬bungkan peristiwa pengusiran di ruang pameran itu dengan wajah¬nya, bukan dengan busana, perilaku atau penampilannya.
Lukisan lukisan potret Affandi pada masa itu berbeda dengan lukisan potret pesanan karya pelukis pelukis dari kelompok elit. Lukisan lukisan potret yang populer waktu itu adalah lukisan potret kalangan atas, orang kaya, para pejabat pemerintah Belanda dan keluarganya. Wajah wajah mereka dipercantik lewat idealisasi.
Lukisan potret Affandi adalah potret keluarga yang mencermin¬kan realitas sosial yang pahit. Lukisan lukisan potret ini jauh dari idealisasi. Wajah wajah yang tampil dalam lukisan lukisan ini muram dan menggambarkan kehidupan keras keluarga Affandi. Dari semua kenyataan itu bisa disimpulkan pembentukan acuan seni lukis Affandi berangkat dari “potret diri”. Melalui lukisan potret ini Affandi “merenungkan” esksistensinya. Melalui wajahnya ia mengkaji hubungan realitas dengan kepribadiannya. Fenomena semacam ini yang menjadi materi pemikiran Ducasse.
Dalam esei The Art of Personal Beauty itu. Ducasse membahas apa yang disebutnya, philosophy of cosmetic art. Ia berangkat dari pendapat yang tidak luar biasa:
manusia bersolek untuk menun¬jukkan keperibadian seperti yang dikehendakinya, sekaligus menu¬tupi kekurangan yang ada pada wajahnya. Upaya ini punya satu tujuan : berkomunikasi dengan orang lain dengan cara menjadi menarik menurut ukuran orang.
Namun Ducasse melihat kecenderungan bersolek itu tidak hanya sebagai upaya menghiasi diri. Kecenderungan ini melibatkan pula proses mengedit realitas wajah yang secara langsung berhubungan penataan kepribadi¬an. Dasar untuk menyusun kepribadian ini adalah ukuran¬-ukuran umum dan idealisme sesuatu komunitas. (Cosmetic berasal dari kata dalam Bahasa Yunani cosmos yang berarti “tatanan kebaikan”).
Ducasse mencatat dua produk penataan wajah dan keperibadian itu. Pertama, “penampilan yang baik”, kedua, “penampilan yang mempesonakan.”
Penampilan baik, menurut Ducasse adalah penataan realitas yang sudah ada. Hanya dengan menambah dan mengurangi; Seni dekoratif menurut Ducasse, berakar pada kecenderungan bersolek untuk penampilan yang baik itu. Merupakan upaya membangun atribut dalam menjalin komunikasi sehari hari. Pandang¬an Ducasse ini sangat dekat dengan prinsip prinsip estetika timur dalam kesenian tradisional di mana kostum, perhiasan, peralatan adat dan atribut lain mempunyai fungsi membangun sesuatu citra yang menyangkut identitas, kebesaran dan berbagai simbol spiritual dalam kaitan menjalin komunikasi interperso¬nal.
Sementara itu penampilan yang mempesonakan, merupakan proses penataan yang jauh lebih kom¬pleks. Penampilan yang mempeso¬nakan melibatkan imajinasi yang tak dapat diduga. Seringkali merupakan pembalikan realitas dan penampilan idelisme baru yang berpangkal pada kreativitas dan berbagai kemampuan yang highly individual. Upaya memba¬ngun penampilan yang mempeso¬nakan ini, sudah lepas dari urusan mengurusi wajah. Kepekaan yang berasal dari kecenderungan bersolek ini bisa berkembang ke kreasi yang lebih kompleks. Kreasi ini merupakan hasil sebuah proses yang melibatkan refleksi diri dan reaksi yang sangat individual. Tentang ini Ducasse menults:
Although someone had said “shams are illegitimate offspring of idealism, “we may say with equal justice that the Legitimatefirst born of idealism makes its apearance at the surface of our personality.
Absorption in our inner selves to the neglect of the surface with which others have to deal, betrays a degree of self centeredness verging on what has been called “spiritual setfishness.” Proses itulah yang terjadi pada Affandi. Melalui potret diri ia berhadapan dengan realitas. Melalui protret diri pula ia berusaha membalik “sesua¬tu realitas.” Dalam proses ini, di mana ia tidak berhadapan dengan realitas yang sesungguhnya, spiritual selfishness pada dirinya menggerakkan imajinasinya mentransformasikan “realitas sosial” menjadi “realitas alam” yang berkaitan dengan kodrat. Seperti binatang yang ditakdirkan harus hidup, di baurah ancaman rimba raya.
Maka potret diri Affandi adalah “nada kunci” bagi seluruh Irama ekspresinya”. Di sini tersembunyi kendali semua gerak emosinya. Itulah sebabnya mengapa ia selalu kembali melukis potret diri ketika merasa gagal melukis. Ia seperti menyetel kembali nada emosinya dengan melakukan instrospeksi. Pada lukisan potret diri yang secara tetap dibuatnya, tercermin seluruh perkembangan seni lukisnya. Lukisan potret, bagi Affandi adalah sebuah refleksi perkembangan dirinya.
Tentunya tak ada lagi kesem¬patan mendapat konfirmasi dari Affandi tentang hal itu. Namun saya mencoba menceknya pada Kartika, dengan asumpsi ada kesamaan konsep antara potret diri Affandi dengan potret diri Kartika.
Pada mulanya saya menyangka potret diri Kartika adalah media ia menumpahkan perasaan dan rasa tidak puas. Ternyata tidak. “Saya tidak pernah menjadikan lukisan tempat pelarian menghadapi kenyataan,” katanya. Ia menegas¬kan, potret diri yang dibuatnya, adalah refleksi dari perjalanan hidupnya. (Saya tidak mengarah¬kan pernyataan. ini dengan mengu¬raikan teori teori Ducasse). Pernya¬taan Kartika ini sedikit banyak sebuah konfirmasi.
Pada potret diri Affandi yang dibuatnya antara 1940 1950, terlihat dengan jelas pembentukan acuan seni lukis Affandi. Diban¬dingkan dengan protret diri pada era 1930’an, potret era 1940’an, menunjukkan ekspresi yang mengganggu.
Misalnya Potret Diri, 1940. Lukisan cat minyak ini dibuat dalam satu warna, warna merah. Kendati masih memperlihatkan kecenderungan representatif, sapuan kuasnya mulai menampak¬kan getaran emosi. Wajah Affandi pada lukisan ini mengesankan wajah rakyat, menatap dengan kerlingan penuh curiga dan kebencian. Sorot matanya yang mengerling memperlihatkan rasa terancam. Seperti pada pengusiran di Bandung, ia menghadapi realitas sosial yang mendesaknya.
Ekspresi wajah seperti itu berlanjut pada Potret diri 1942 dan Potret Diri 1943. Kerlingan pan¬dangan Affandi semakin tegas menunjukkan perasaan perasaan gelisah itu. Namun garis garisnya juga semakin emosional, seolah¬-olah berusaha menutupi ekspresi wajahnya yang tergambar realistik. Pada Potret Diri 1943 getaran emosinya bahkan tidak lagi bisa tersalur lewat kuas. Desakan emosi yang sangat kuat membuat ia akhirnya menyalurkan getaran perasaan itu melaluijari jari tangannya.
Pada dua lukisan yang terakhir itu, ekspresi wajah Affandi yang menggambarkan kebencian, beradu dengan garis garisnya yang semakin emosional. Keduanya berlornba menjadi yang paling utama. Kita tahu, garis garis yang emosional itu yang akhirnya keluar sebagai pemenang dan pilihan ini memperlihatkan persepsi Affandi.
Affandi ternyata punya kecen¬derungan mengindetifikasi realitas melalui insinght journey. Ia cende¬rung mengidentifikasi realitas sosial di sekelilingnya melalui kehidupan keluarganya. Lukisan-¬lukisannya, Anakku, 1936, Kartika Tidur, 1936, Kartika Tidur dengan Ibunya, 1937, dan Saya dan Kartika, 1939 menunjukkan rasa sentimentil seorang lelaki melihat anaknya, khususnya dalam tidur. Mencerminkan berbagai pertanyaan tentang kesejahteraan masa depan, dan poses alam terjadinya anak.
Kehadiran anak selalu mem¬buahkan pertanyaan tentang kesejahteraan dan masa depan. Namun di sisi lain, menghadirkan pula pertanyaan tentang proses alam, terbentuknya anak yang tumbuh dari sperma dan sel telur yang maha kecil. Ekspresi senti¬mentil pada potret potret Kartika menunjukkan renungan Affandi lebih dekat pada proses alam yang menakjubkan itu.
Persepsi semacam itu yang membuat Affandi mentrans¬formasikan semua realitas sosial di sekitarnya menjadi gejala alam. Keluarga cinta, perkawinan, seks, persekutuan dan reproduksi memang bukan cuma fenomena sosial, tapi juga fenomena alam.
Maka pada potret diri yang dibuatnya pada tahun 1943 Affandi terlihat menetapkan persepsinya. Ia memilih bertarung dengan alam dan tidak berusaha menyiasati realitas sosial seperti kebanyakan pelukis pelukis seangkatannya. Ia juga tidak berusaha mengangkat realitas sosial menjadi fenomena untuk dikaji seperti kebiasaan para filsuf. Pemilihan Affandi berakar pada sebuah proses pembentukan sikap yang sulit diuraikan dengan pasti. Sikap “naturalis sejati” Affandi sebuah kepercayaan pada kekuatan kekuatan alam, di mana ia sendiri adalah bagian dari kekuatan kekuatan itu.
Potret diri telanjang Affandi yang banyak dibuatnya antara 1940 1950. Belajar Anatomi 1948 dan Kelahiran Cucu Pertama, 1953 menunjukkan manifestasi ia sebagai bagian dari alam. Dengan ketelanjangan ia melaku¬kan semacam dematerialisasi (semacam abstraksi dalam filsafat). Ini sebuah pertanda kuat Affandi mentransformasikan realistas sosial yang dihadapinya menjadi sebuah realitas alam.
Ketika sikap itu terbentuk dan menjadi mekanisme dalam berkar¬ya, Affandi menjadi peka pada berbagai dimensi alam. Keyakinan¬nya tentang alam bukan Cuma mempengaruhi kepekaan melukis¬nya. Keyakinan ini khususnya tentang pertarungannya dengan alam, membangun sebuah totalitas sangat besar dan ia kemudian luluh sesudah itu.
Affandi pernah menyebut dorongan melukis itu sebagai Het dierliyke in de mensch atau ke¬binatangan pada manusia. Ka¬pasitas inilah yang mungkin membangkitkan kekagurnan para kritikus Eropa pada awal 1950’an. Tidak mudah membangun totalitas semacam ini.
Sebagian besar karya Affandi dikenal mengambil tema alam. Kecenderungan ini tercermin dengan jelas pada sebagian besar potret dirinya. Potret diri Affandi yang disertai matahari, memperli¬hatkan keyakinannya pada sumber kekuatan alam. Corak “aku dan matahari” ini terlihat secara tetap dilukisnya sejak tahun 1950, dari mulai Saya dan Tujuh Matahari, 1950, sampai Tidak Tercapai, 1987.
Namun bila kita kembali pada pemikiran Ducasse, tidak bisa disangkal pandangan Affandi yang melibatkan getaran emosi dan tentang alam, berpangkal dari keadaan fisiknya seperti dalam perkelahian yang sebenarnya. Ketika ia melukis tubuhnya ikut aktif dan melepaskan energi yang pertanyaan yang eksistensialistis. Merupakan akibat sebuah keterde¬sakan dalam menghadapi komuni¬tas dan kehadiran orang lain.
Maka pandangan Affandi tentang alam, tidak lepas dari intepretasi yang bermuara pada pengalaman hidupnya yang pahit. Ia menganggap realitas sosial yang dihadapinya tidak bersahabat. Mendesak dan menaklukkannya. Ketika ia mentransfromasikan realitas itu menjadi kekuatan alam, ia menafsirkannya juga sebagai kekuatan yang tidak bersahabat.
Dalam semua lukisannya ia bertempur dengan alam yang maha besar dan maha kuat itu. Dan dalam pertarungan ini ia merasa selalu harus kalah, seperti dikata¬kannya. “Waktu melukis saya selalu mau jadi satu dengan obyek yang saya lukis. Saya kehilangan diri saya, lalu ada perasaan muncul, seperti perasaan mau berkelahi.”
Namun kekalahan ini menjadi semacam idealisme tentang alam yang dalam seni lukis Affandi berkaitan dengan perjuangan spiritual. “Semuanya bergerak dan terus tidak seimbang,” katanya suatu kali. Ia ingin melawan kondisi tidak seimbang itu dengan spirit tidak mau menyerah, melawannya dengan vitalitas.
Alam pada acuan seni lukis Affandi, bukan alam seperti dalam citra umum: hutan, laut, bukit, pegunungan, angin dan matahari. Alam pada lukisan Affandi kadang¬kadang bisa dilihat sebagai metafora realitas kehidupan yang keras, di antaranya realitas sosial. Karena itu alam dalam lukisan lukisan Affandi meliputi pula berbagai dimensi kehidupan: kemiskinan, kehidupan kota, pertarungan binatang.
Interpretasi Affandi tentang alam, yang dipengaruhi realitas sosial yang dihadapinya membuat lukisan lukisan Affandi senantiasa memperlihatkan nafas yang pesimistis. Gambaran pergolakan yang dalam waktu pendek akan mencapai titik akhir. Sebuah upaya bertahan pada esensi alternatif : hidup atau mati, kalah atau menang. Affandi peka menangkap semua keadaan yang menggambarkan kondisi ini. Serial lukisan potret diri yang dibuatnya sepanjang hidupnya memperlihat¬kan gradasi menuju kekalahan itu. Menunjukkan pandangannya tentang “keadaan tidak abadi” yang absolut.
Perubahan gradual itu terlihat dengan nyata bila seluruh potret diri Affandi dikaji menurut urutan tahun pembuatannya. Pada potret diri tahun 1960 1970, wajah-¬wajah Affandi masih tergambar dengan nyata. Jejak jejak citra realistik masih terlihat dalam lukisan luldsan ini. Wajahnya menyembul dari antara warna¬-warna gelap atau merah menyala, muram, garang dalam susunan garis yang sangat dinamis. Bergetar dan bertenaga. Riuh dengan irama garis melengkung. Garis garis itu seperti melawan.
Menjelang 1980 potret potret Affandi secara gradual terlihat semakin transparan. Lukisan¬-lukisan ini seperti menunjukkan Affandi semakin hilang dalam pertarungannya dengan alam. Garis garis renggang dan melemah yang didominasi warna merah, membangun ekspresi wajah yang terdesak, menyimpan dorongan yang tertahan. Pada potret potret yang memudar ini Affandi seperti tidak lagi bisa merekam perlawanan pada wajah wajahnya. Gambaran muka pada potret potret dirinya semakin hilang. Seperti kebanyakan lukisan lukisannya yang lain pada periode 1970 1980, muncul garis garis liar, menumpuk dan menyatu memben¬tuk sebuah citra yang nyaris abstrak.
Lukisan potret diri Batuk dan Mripat, 1982 adalah sebuah contoh dari potret yang memudar itu. Ini catatan perjalanan yang menunjukkan batas perlawanan Affandi, menandakan kepekaannya merasakan batas batas yang memburunya sepanjang hidupnya. Lukisan yang nyaris abstrak ini, menurut pendapat saya, sebuah karya yang luar biasa. Tidak seperti biasanya pada potret diri ini. Affandi hanya melukis dahi dan matanya. Dahi yang biasanya diekspresikan merah, menonjol dan vital, pada lukisan ini berkerut melingkupi dua mata yang mena¬tap tajam (sangat jarang Affandi menampilkan tatapan yang frontal semacam ini). Di bawah himpitan dahi, sorotan dua matanya seperti mata kura kura yang tak berdaya.
Pada periode 1980’an ekspresi pada potret diri Affandi tidak lagi memperlihatkan garis garis melawan yang bergetar. Bidang lukisannya yang semakin trans¬paran dipenuhi lelehan cat. Garis-¬garis ekspresif dan wajahnya yang garang, digantikan ungkapan renungan yang tampil melalui berbagai simbol. Gerhana Matahari Total, 1983 menggambarkan ambisinya menelan matahari sumber kehidupan yang dalam lukisan ini menjadi hitam. Pada Hampir terbenam, 1985 dua sosok Affandi memudar di bawah mata¬hari yang memerah. Sangat mungkin semua karya karya Affandi periode 1980’an seharus¬nya dikaji melalui makna makna simboliknya seperti pada kedua potret dirinya itu. Ekspresinya tidak lagi tampil melalui getaran-¬getaran garisnya.
Banyak opini berpendapat pada periode 1980’an Affandi tidak lagi mempunyai energi untuk memba¬ngun ekspresinya. Ia sudah uzur. Tapi seni bukan olahraga dan seniman bukan atlet. Seniman mempertahankan keyakinanannya tidak sepanjang kesegaran ototnya. Sejumlah karya Affandi periode 1980’an justru mencerminkan acuan seni lukis Affandi yang mendasar. Simbol simbol dalam lukisan periode itu, menegaskan kecenderungannya sejak lama, bahwa alam dalam interpretasi Affandi sebenarnya mengandung metafora realitas yang dihadap¬inya.
Pada lukisan lukisan 1980’an, terungkap pula pandangan hidup yang menjadi latar belakang semua tema lukisannya: keharusan kalah menghadapi kekuatan alam. Pada potret diri Mati, 1987 ia seperti menjelaskan hubungan antara tema lukisannya dengan refleksi diri yang tercermin pada potret dirinya. Pada lukisan ini, potret Affandi yang terkesan babak belur, berdampingan dengan bangkai ayam citra yang sering tampil pada lukisan lukisannya yang bertema adu ayam.
Affandi menyerah. Bukan karena ia menghadapi kematian, tetapi karena ia sampai pada sebuah kesimpulan. Kepada anaknya Rukmini, yang juga pelukis. Ia menyatakan merasa sangat kecil di tengah alam raya. Sebuah tanda yang menunjukkan Affandi, akhirnya sampai pada renungan transendental. Ia me¬yimpulkan kekuatan alam yang maha dahsyat, yang dilawannya dengan vitalitas sepanjang hidup¬nya, adalah kebesaran Tuhan. Rukmini kemudian mengajarinya menjalankan ibadah agama.
Kesimpulannya yang terakhir itu menjelaskan “eksistensialisme Affandi.” Sebuah pandangan tentang kodrat. Bahwa dalam kehidupan terdapat ketidakadilan, ketidak imbangan, kesengsaraan yang tidak bisa ditiadakan. Namun tak ada alasan untuk lari. Implisit, Affandi pernah mengutarakan bahwa kehidupan terbentuk karena pertarungan kekuatan-¬kekuatan, akibat adanya ketidak¬imbangan.
Interpretasi itu sebuah citra yang membeku. Pandangan hidup yang terbentuk karena kepahitan yang mendera bertubi tubi pada sesuatu saat, namun kemudian menetap sepanjang hidup. Keada¬an ini yang terjadi pada Affandi dan membuat ia menjadi sebuah monumen sejarah kehidupan masa kolonial. Bahwa tatanan masya¬rakat kolonial Barat tidak hanya mencerminkan ekspansi ekonomi dan perampasan kedaulatan, tapi juga pekat diwarnai perenggutan hak hak azasi manusia yang berdampak panjang.
Kemanusiaan yang cedera seperti yang digoreskan Affandi itu yang mendesak terus ke permuka¬an dan memburu rasa bersalah masyarakat Barat masa kini yang kemudian berusaha membangun post colonial western culture dengan memerangi pelanggaran hak hak azasi manusia. Dan kini, goresan itu mendesak kita berta¬nya, sadarkah kita bahwa memper¬kosa hak azasi seorang manusia bukan cuma sebuah peristiwa, tapi provokasi yang bisa membuahkan 1 luka berkepainjangan.

DaftarPustaka

Alperson, Philip. (ed.) Philosophy of the Visual Arts, (Buku Teks), Oxford University Press, New York, 1992.
Apin. Mochtar. Corat Coret Affandi. 1944 1952, Penerbit Angkasa, Bandung, 1986.
Gombrich. E.H..Art and Illusion, A Study in the Psychology of Pictorial Representation. Princeton University Press, Washington. 1972.
Hadiwardoyo. Sanento Yuliman. Seni Lukis Indonesia Baru, Sebuah Pengantar. Dewan Kesenian Jakarta. 1976.
Rosidi. Ajip. (et.al) Affandi 70 Tahun. Dewan Kesenian Jakarta, 1978.
Supangkat. Jim. “Affandi the Man and the Artist.” Budaya. October 1990 (majalah) Q.E.D. Publishing Inc. Minnesota.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: