PERPUSTAKAAN KELILING SEBAGAI ALTERNATIF BAGI PELAYANAN PENDIDIKAN

Juni 2, 2008 pukul 1:28 am | Ditulis dalam Pendidikan | Tinggalkan komentar

A. Pendahuluan
Tulisan sederhana ini terinspirasi dari pengalaman penulis, saat penulis dipercaya sebagai pengelola dan wali kelas unggul. Saat itu timbul ude dari penulis untuk memanfaatkan pojok kelas sebagai “mini library” atau perpustakaan mini. Dengan menggunakan sistem “place utility” yang memudahkan bagi pembaca untuk memanfaatkan buku bacaan. Bagi siswa yang mempunyai buku bacaan, referensi, buku cerita, majalah atau buku apa saja yang dirumahnya kurang bermanfaat atau tidak dimanfaatkan dapat ditaruh/ditempatkan pada rak buku “mini library”. Jadi bagi investor buku diberi hak untuk menaruh atau menempatkan buku dengan bebas maupun saat menariknya kembali. Kepercayaan diserahkan sepenuhnya kepada pengelola perpustakaan mini. Kemudian pengelola berhal dan berkewajiban mengelola pendistribusian, perawatan maupun pemeliharaan dan penjagaan keutuhan buku. Bagi pemakai jasa perpustakaan mini disyaratkan untuk dapat bersifat amanah (dapat dipercaya). Ketiga komponen ini baik investor, pengelola maupun pemakai saling kait-mengait, saling bekerja sama maupun saling memberi manfaat. Menuurt pantauan penulis kegiatan perpustakaan mini ini banyak memberikan manfaat baik bagi upaya pengembangan minat baca, pengembangan keilmuan, terlebih lagi bagi penunjang bagi penguasaan materi tertentu. Hal ini dapat dibuktikan dari data peminjaman, juga meningkatnya hasil prestasi belajar siswa. Sebelum ada mini library murid kelas unggul harus meminjam buku ke perpustakaan sekolah yang tentu harus menyempatkan waktu tertentu dan persyaratan prosedural yang harus dipenuhi setelah ada mini library siswa dapat memanfaatkannya kapan saja khususnya jam sekolah.
Kemudian inspirasi penulis juga diperkuat dengan semakin maraknya sistem jasa penjualan, baik jasa penjualan asongan di bus, di kapal laut, di kereta api atau bahkan pedagang keliling lainnya. Dimana pembeli dijadikan tuan atau raj ayang harus dilayani dengan baik dan prima. Sehingga penjual akan berusaha semaksimal mungkin mendatangi pembeli dengan berbagai tawaran produknya. Apalagi perkembangan dunia bisnis ke depan usaha di bidang jasa sangat mempunyai peluang. Jadi bagi pembeli tidak perlu bersusah payah mencari barang kebutuhannya ke pasar atau ke pabrik, namun cukup menelpon atau pesan kepada perusahaan jasa. Maka pesanan akan segera dikirim sesuai kriteria permintaan pemesa. Jika kita cermati kemajuan bidang bisnis dengan berbagai pendekatan dari metodenya baik melalui sales, distributor maupun iklan di media cetak dan elektronik dalam upaya pemasyarakatan produknya sehingga dapat dinikmati dan sampai kepada konsumen pemakainya, menurut hemat penulis tidak ada salahnya. Jika sistem tersebut dicoba diterapkan pada dunia pendidikan, khususnya melalui pemaksimalan jasa pelayanan perpustakaan keliling, sehingga pelayanan pendidikan akan lebih mudah dan cepat dimanfaakan oleh seluruh lapisan masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan, pedalaman atau masyarakat yang jauh dari akses pendidikan.

B. Pembahasan
Sebelum membahas tentang definisi dan hal-hal yang berkaitan dengan perpustakaan keliling, sebagai pengantar dari tulisan ini agar tidak terkesan lari dari tema pembahasan Education For All, maka perlu penulis paparkan terlebih dahulu tentang pembagian pendidikan. Sudah kita maklumi bersama bahwa kita mengenal ada pendidikan formal, pendidikan non formal dan pendidikan informal. Maka tulisan makalah ini membahas tentang pendidikan informal dengan penekanan pada pendidikan masyarakat melalui pelayanan perpustakaan keliling.

1. Definisi Perpustakaan Keliling
Perpustakaan berasal dari kata dasar pustaka. Pustaka yang berarti buku, juga menimbulkan istilah turunan lain seperti bahan pustaka, pustakawan, kepustakawanan, kepustakaan dan ilmu perpustakaan. Maka istilah tersebut berbeda dengan makna kata aslinya. Pustaka telah dikenal manusia sejak tahun 5000 sebelum masehi. Bahan-bahan itu disimpan, diolah, dan disebarluaskan melalui sebuah pranata yang dibentuk khusus untuk keperluan itu, yang disebut perpustakaan. Dan dalam perkembangannya tumbuh pula pranata lain yang kegiatannya mirip, bahkan tumpang tindih dengan perpustakaan, antara lain dokumentasi dan arsip.
Perpustakaan juga berarti sebuah ruangan, bagian dari sebuah gedung ataupun gedung tersendiri yang digunakan untuk menyimpan buku serta terbitan lainnya. Bahan-bahan pustaka itu disimpan menurut tata susunan tertentu untuk kepentingan pembaca, bukan untuk dijual dnegna tujuan mencari untung. Jadi jelaslah bahwa perpustakaan berbeda dengan toko buku. Pada perpustakaan buku yang dimilikinya digunakan untuk kepentingan pembaca, sehingga tujuan perpustakaan bukanlah mencari untung. Pada toko buku, buku yang dimilikinya disusun untuk dijual dengan tujuan mencari laba.
Sedangkan perpustakaan keliling merupakan perpustakaan umum yang melayani masyarakat yang tidak terjangkau oleh pelayanan perpustakaan umum, dengan mengunjungi pusat pemukiman masyarakat, yang merupakan peningkatan dan perluasan pelayanan perpustakaan wilayah atau perpustakaan umum Tingkat II.
Jadi yang dimaksudkan perpustakaan keliling disini adalah merupakan perpustakaan umum untuk melayani masyarakat yang tidak terjangkau atau sulit dijangkau oleh pelayanan perpustakaan umum mengingat keterbatasan dan kelemahan perpustakaan umum. Sementara masyarakat Indonesia disamping tersebar di berbagai kepulauan, di berbagai daerah pemukiman tentu merasa kesulitan untuk memanfaatkan jasa pelayanan perpustakaan mengunjungi pusat-pusat pemukiman masyarakat. Sehingga jasa perpustakaan umum lebih dapat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat. Dalam mengelilingkan buku-buku perpustakaan tentu menggunakan jasa transportasi, jasa pengelola maupun jasa penyalur. Dimana komponen-komponen tersebut saling kait-mengait sebagai sistem pelayanan.
Perpustakaan tidak lepas dengan buku-buku selalu dihubungkan dengan kegiatan belajar. Dan buku harus didistribusikan kepada pusat-pusat kegiatan belajar. Untuk itulah arti pentingnya perpustakaan keliling.

2. Landasan Hukum
Walaupun secara tertulis mengenai perpustakaan keliling sebagai ujud pelayanan pendidikan tidak jelas namun secara implisit, menurut hemat penulis terdapat landasan hukumnya. Dalam UUD 45 bab XIII pasal 31 ayat 1 dinyatakan: “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”. Dalam ketentuan umum, Bab I Undang-Undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal satu ayat 13, pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.
Pengertian pendidikan itu sendiri mempunyai arti: usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Fungsi pendidikan adalah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Prinsip penyelenggaraan pendidik dalam Bab III UUSPN No.20 Tahun 2003 pasal 5, ayat 2: Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang distemik dengan sistem terbuka dan multimakna; ayat 3: Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat; ayat 4: Pendidikan diselenggarakan dengan memberi teladan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran; ayat 5: Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat, dan lebih jelas pada ayat 6: Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan.
Dalam kaitannya dengna hak dan kewajiban warga negara, orang tua, masyarakat, dan pemerintah Bab IV pasal 5 ayat 1: Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu; ayat 3: Warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus; ayat 5: Setiap warga negara berhak mendapat kesempatan meningkatkan pendidikan sepanjang hayat. Kemudian dalam pasal 8: Masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanana, pengawasan dan evaluasi program pendidikan. Masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggarakan pendidikan (pasal 9).
Jika kita hubungkan dengan perpustakaan (keliling) sebagai sarana pelayanan pendidikan, perpustakaan merupakan tempat belajar seumur hidup, lebih-lebih bagi mereka yang sudah bekerja atau meninggalkan bangku sekolah ataupun putus sekolah.
Secara teoritis, semua anggota masyarakat dapat menggunakan fasilitas dan koleksi perpustakaan, namun sayangnya perpustakaan masih sangat terbatas dan belum mencukupi. Secara singkat dapat dikatakan bahwa perpustakaan umum (keliling) adalah perpustakaan yang dibiayai oleh dana umum, yang terbuka untuk umum, tanpa membedakan status sosial, lazimnya, jasa yang diberikan secara cuma-cuma. Perpustakaan umum (keliling) merupakan sarana penting bagi pendidikan bangsa manapun, sehingga UNESCO pada tahun 1972 mengeluarkan pernyataan yang disebut Manifesto perpustakaan umum. Dalam manifesto tersebut dinyatakan bahwa perpustakaan umum terbuka bagi siapa saja tanpa memandang perbedaan usia, warna kulit, kepercayaan, jenis kelamin, ras, kedudukan sosial atau agama. Karena prinsip keterbukaan ini, maka banyak orang yang setelah meninggalkan bangku sekolah kemudian menggunakan perpustakaan umum.
Perpustakaan selalu dikaitkan dengan belajar, karena itu perpustakaan selalu dihubungkan dengan kegiatan belajar. Jika demikian maka kegiatan belajar dapat dibagi menjadi belajar di dalam dan di luar lingkungan sekolah. Perpustakaan berkaitan dengan kedua kegiatan, karena pada sekolah terdapat perpustakaan sekolah untuk membantu murid meningkatkan daya belajar dan proses belajar, sedangkan diluar sekolah masih ada perpustakaan umum yang merupakan sarana pendidikan berkesinambungan seumur hidup.

3. Perpustakaan Keliling sebagai Alternatif Pelayanan Pendidikan
Timbul pertanyaan, mengapa perpustakaan keliling? Ada beberapa alasan singkat dan sederhana, bahwa perpustakaan keliling merupakan salahs atu alternatif pelayanan pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat, antara lain :
a. Hak untuk memperoleh Pendidikan
Pada pasal 31 ayat 1 UUD 1945 dinyatakan bahwa setiap warga negara berhal mendapat pendidikan. Istilah pendidikan tidak hanya terbatas pada sistem – bagian pendidikan formal dan sistem – bagian pendidikan non-formal, akan tetapi melebar sampai kepada sistem bagian pendidikan in-formal. Pendidikan in-formal sebagai suatu sistem – bagian meliputi segala macam penyelenggaraan aktivitas melembaga yang fungsi pendidikannya berlangsung wajar dan lebih terlihat sebagai pengalaman belajar individual – mandiri, dan sudah tentu tidak memiliki kredensials. Dalam hubungan ini, contoh kongkritnya seperti: Pendidikan di dalam keluarga, pendidikan melalui media komunikasi massa, pendidikan melalui permagangan di lembaga-lembaga kerja, pendidikan melalui acara-acara keagamaan dan adat-istiadat, pendidikan melalui sarana-sarana hiburan dan rekreatif, pendidikan melalui sarana-sarana pengembangan minat, hobi dan bakat, pendidikan melalui kelompok-kelompok organisasi (politik, profesi, sosial kemasyarakatan, bisnis, fungsional), pendidikan melalui gerakan-gerakan pengembangan di masyarakat (dilakukan oleh berbagai instansi pemerintah, seperti penyuluhan pertanian, motivasi KB, penerangan gizi dan sebagainya), pendidikan melalui program-program rehabilitasi sosial (seperti rehabilitasi tuna wisma, tuna susila, anak-anak nakal, nara pidana, tahanan politik dan sebagainya) serta pendidikan melalui sanggar-sanggar sumber belajar (seperti perpustakaan umum, musium, kebun binatang, kebun raya, karang taruna dan sebagainya).
Menurut hemat penulis, walaupun stressing pembahasan pada makalah ini adalah perpustakaan keliling sebagai alternatif pelayanan pendidikan khususnya pendidikan in-formal, namun demikian sebenarnya perpustakaan keliling, jika dikelola dengan sungguh-sungguh dan profesional dapat menembus dan melintas bagi pendidikan non-formal maupun pendidikan formal. Mengapa? Sebab dengan sistem perputaran dan rotasi buku yang snagat bervariasi lebih memudahkan pembaca/pengguna jasa perpustakaan sesuai kebutuhannya yang sellau beragam dan berbeda. Lain halnya perpustakaan sekolah atau perpustakaan bukan keliling cenderung bukunya kurang variasi, sebab kecenderungan berdasarkan ciri kekhasan lembaga sering mendominasi jenis buku yang tersedia pada perpustakaan yang bersangkutan.
Dengan beroperasinya perpustakaan keliling dengan maksimal dan profesional yang dapat menembus seluruh lembaga pendidikan (formal – non formal dan in formal) memberikan peluang yang sangat besar bagi pemenuhan hak seluruh warga negara untuk mendapatkan pelayanan pendidikan.
b. Pemasyarakatan budaya baca
Semenjak United Nations Development Programme atau UNDP (2003) mengumumkan prestasi Indonesia pada urutan ke-112 dari 174 negara sebagai negara berkualitas dengan indikator angka literasi (literacy rate) 88%, pemerintah Indonesia memeras otak memberantas kebodohan melalui “penggenjotan minat baca”. Berbagai program seperti rumah baca, pengayaan perpustakaan dan persuasi dalam programpun dilakukan dan digalakkan. Indonesia agaknya tidak rela ditempatkan dibawah Vietnam (109), Thailand (74), Malaysia (58) dan Brunai Darussalam (31).
Sebuah strudi menunjukkan angka baca orang Indonesia 1 : 45, angka ini lebih tinggi dari pad ayang dicapai Filipina (1 : 30) dan Sri Langka (1 : 35). Studi ini dikuatkan oelh survai bahwa kunjungan pustaka orang Indonesia berada pada kisaran 10 – 20%, dan dipertegas oleh laporan Vincent Greanary bahwa kemampuan baca anak SD di Indonesia berada pada urutan terakhir (51,7) setelah Filipina (52,6), Thailand (65,1), Singapura (74,0) dan Hongkong (74,5). Angka-angka tersebut mewujudkan betapa orang Indonesia tidak pandai, tidak terbiasa, dan tidak suka membaca. Padahal secara teoritis ketiga angka tersebut, yakni angka minat baca (reading interet), angka kebiasaan membaca (reading habit) dan angka kemampuan membaca (reading ability) saling gayut. Minat baca menentukan kebiasaan baca, dan kebiasaan baca menentukan kemampuan baca.
Minat baca bersilang kait dengan budaya baca. Di negara-negara yang memiliki minat dan budaya baca tinggi, budaya literat telah diprogram berdasarkan perspektif baru. Kesadaran akan pentingnya tulisan dan bahasa tulis benar-benar disadari dan diakui. Seiring dengan itu pula, penguasaan teknologi informasi budaya menujang angka HDInya.
Salah satu penyebab rendahnya minat dan budaa masyarakat Indonesia adalah kurangnya pajanan (exposure) bacaan yang useful dan meaningful. Ada dua arti dalam hal ini “kurang pajanan …” dapat diartikan miskin bahan bacaan dan minimnya buku. ” … dan useful dan meaningful” diartikan sebagai ketersediaan buku yang tidak menarik minat dan tidak sesuai dengan minat pembaca.
Disamping itu kurangnya pamor kegiatan membaca sebagai kegiatan visual-kognisi yang menyenangkan, berguna dan bermanfaat bagi pemecahan permasalahan kehidupan. Sehingga menurut hemat penulis perpustakaan keliling sebgaai alternatif untuk pemasyarakatan budaya baca.
c. Pendidikan kemandirian
Perpustakaan keliling sebagai pelayanan pendidikan juga merupakan upaya mewujudkan pendidikan kemandirian. Sebab jika kita amati, tidak sedikit orang yang sukses dalam hidupnya, menjadi pemikir, ilmuan, cendikiawan, peneliti bahkan teknokrat yang bukan hanya out put-an dari pendidikan formal dan non-formal semata. Banyak kalangan ilmuan yang belajar secara autodidak, belajar mandiri dengan berbagai literatur dan bahan bacaan yang diminati dan dibutuhkan, bahkan tidak sedikit yang mengadakan penelitian percobaan bahkan penemuan yang menggunakan metode Traiel and error, namun pada akhirnya mereka berhasil.
Pendidikan kemandirian merupakan hal elementer dan dapat langsung dialami. Kemandirian pada hakekatnya tak dapat diartikan lain dari pada gejalanya yang agak berbeda menurut situasi yang dimungkinkan, juga dikuatkan oleh pernyataan dalam literatur yang berkenaan dengan swakarya dan kerja sendiri tanpa bergantung kepada guru atau pendidik.
Pendidikan kemandirian merupakan keharusan pada dekade dewasa ini, sejauh materi yang dipelajari tetapi diarahkan pada masa depan yang nyata bermanfaat bagi diri, keluarga dan masyarakat, sehingga ketergantungan dalam masalah pendidikan sedikit demi sedikit dapat diatasi.
d. Pendidikan berbasis masyarakat dan pemerataan pelayanan pendidikan
Dalam pasal 8 dan 9 UU Sisdiknas No.20 Tahun 2003, bahwa masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan, serta masyarakat berkewajiban memberikan dukung sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan. Dan dalam penjelasan umum No.16 disebutkan bahwa pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama, sosial, budaya, aspirasi dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari, oleh dan untuk masyarakat.
Walaupun dalam pasal 55 tentang pendidikan berbasis masyarakat dimaksudkan hanya pada pendidikan formal dan non formal, namun menurut hemat penulis tersirat juga disana tentang pendidikan informal, jika kita kaitkan dengan pasal 54 tentang peran serta masyarakat dalam pendidikan, bagian kesatu umum baik ayat satu maupun dua.
Perpustakaan umum yang melibatkan langsung peran masyarakat akan lebih memungkinkan pemerataan pelayanan pendidikan kepada sasaran utamanya yaitu seluruh lapisan masyarakat. Lain halnya pendidikan formal dan non formal yang cenderung mempunyai banyak aturan dan ketentuan, yang sudah barang tentu hanya daat dijangkau oleh kalangan/kelompok masyarakat yang memenuhi kriteria atau ketentuan yang ditetapkan. Untuk tu perpustakaan keliling sebagai sarana pendidikan informal sangat mempunyai peluang untuk itu, ketika pendidikan non formal dan formal hanya diselenggarakan pada tempat dan waktu tertentu, maka pendidikan informasi melalui perpustakaan keliling dapat menembus ruang, tempat dan waktu, jika transportasi dan peralatannya mencukupi, sehingga kemungkinan untuk mendapatkan pelayanan pendidikan bagi seluruh warga negara dapat lebih merata, kecuali daerah yang terisolir yang belum terjangkau alat transportasi.
e. Solusi peningkatan SDM
Jika kita perhatikan kayanya akan sumber daya alam Indonesia (SDA) mungkin tidak akan terlintas pada pikiran dan benak kita akan kebodohan, keterbekalangan bahkan kemiskinan. Namun itulah realitasnya, kita hidup miskin di negara kaya, kita hidup bodoh di negara yang mayoritas penduduknya mempunyai kitab suci yang memerintahkan membaca (Iqro’) bahkan kita hidup terjajah dan terbelakang di negaranya sendiri.
Timbul persoalan, apanya yang salah? Dan tentuy semuanya tidak mau disalahkan. Yang menjadi pokok persoalan adalah rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Jika kita cermati budaya dan kebiasaan masyarakat Indonesia yang agraris, apa kegiatan masyarakat petani kita sesudah masa panen? Apa kegiatan masyarakat petani kita sesudah masa tanam (masa tunggu)? Atau jika kita tengok pedagang kita, apa kegiatan ketika tidak ada pembeli (masa tunggu) atau mungkin ketika kita tengok pegawai publik sevice kita, apa kegiatan ketika waktu luang tidak melayani masyarakat ? atau bahkan jika kita amati apa kegiatan siswa atau mahasiswa kita setelah ujian? Tidak perlu dijawab dan dipersalahkan dalam tulisan ini, namun itulah realita budaya yang ada di masyarakat kita Indonesia tercinta ini.
Sehingga tidak heran jika kita mempunyai kekayaan sumber daya alam yang begitu luar biasa (Zamrutnya katulistiwa, bagaikan tanah surga, bahkan tongkat dan batupun jadi tanaman) namun kita belum mampu mengolah atau memanfaatkan kekayaan tersebut. Sehingga tidak heran jika kita saksikan suatu daerah penghasil minyak, namun harga minyak di daerah tersebut melambung tinggi bahkan susah didapatkan. Penghasil sawit, tapi untuk mencari minyak sayur begitu sulit dan sebagainya, sehingga seolah-olah terjajah di daerah sendiri.
Menurut hemat penulis, perpustakaan keliling sangat mempunyai peluang dalam mengatasi permasalahan tersebut, baik sebagai solusi saat waktu luang bagi masyarakat maupun dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia secara sederhana dapat penulis sampaikan, dalam upaya tersebut perpustakaan keliling dapat menyediakan dan mengusahakan buku-buku yang menarik, sesuai kebutuhan masyarakat, seperti halnya buku-buku tentang teknologi sederhana tepat guna, ketrampilan tepat pakai ataupun buku-buku bermanfaat lainnya. Penulis sangat optimis, jika perpustakaan keliling dikelola secara optimal dan profesional serta didukung oleh seluruh komponen masyarakat, baik pemerintah, lembaga pendidikan atau unsur masyarakat lainnya, akan mempunyai peran dan andil yang signifikan bagi peningkatan mutu sumber daya manusia Indonesia.

C. Kesimpulan dan Penutup
Pergeseran istilah nampaknya berlaku juga bagi dunia pendidikan. Kalau istilah dulu timba sumur mencari lubang sumur untuk mengambil air. Namun untuk istilah sekarang tidak semua sumur didatangi timba/ember untuk diambil airnya. Untuk itu sumur harus pro aktif mencari ember untuk diisi, sehingga diusahakan PDAM dengan mengalirkan air dari sumber mata air kepada bak-bak enampungan air yang siap digunakan baik melalui pipa atau saluran air atau bahkan menggunakan jasa pengangkutan air bersih.
Demikian juga dalam bidang perdagangan/bisnis juga terjadi pergeseran sistem. Dulu konsumen akan senantiasa berusaha mendatangi produsen, namun nampaknya saat ini konsumenlah yang didatangi produsen yang ingin menjual produknya, sehingga seolah konsumen adalah raja yang harus dilayani dan didatangi.
Dalam dunia pendidikan barang kali patut menjadi bahan pemikiran dan diskusi bersama tentang pergeseran istilah tersebut. Menurut penulis, perpustakaan keliling sebagai alternatif bagi pelayanan pendidikan untuk seluruh lapisan masyarakat. Sehingga masyarakat sebagai sasaran sekaligus sebagai pelaku dari pendidikan itu sendiri akan merasakan langsung dari pelayanan pendidikan yang disajikan. Penddiikan dari, oleh dan untuk masyarakat lebih mempunyai peluang dalam proses pendidikan kemandirian, pendidikan berbasis masyarakat, terpenuhinya hak bagi warga negara untuk memperoleh pendidikan, budaya membaca memasyarakat, pelayanan pendidikan merata yang pada akhirnya sumber daya manusia Indonesia meningkat kualitasnya.
Sebagai penutup penulis mencoba menyodorkan sebuah ide, atau gagasan kepada siapa saja yang peduli kepada dunia pendidikan, bahwa ke depan pengelolaan perpustakaan keliling secara optimal dan profesional dalam segala hal adalah mutlak dan niscaya yang harus segera diwujudkan bersama. Semoga …..

DAFTAR PUSTAKA
Basuki, Sulistyo, Pengantar Ilmu Perpustakaan, Jakarta: Universitas Terbuka, Depdikbud, 1999.
_____________, Periodisasi Perpustakaan Indonesia, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1994.
Depag RI, Buku Pedoman Perpustakaan Dinas, Jakarta: Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 2001.
Elfindri, Jalur Cepat Lulus S1 dan S2, Tangerang: Visimedia, 2006.
Enoch, Jusuf, Dasar-dasar Perencanaan Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 1992.
Faisal, Sanapiah, Pendidikan Luar Sekolah di Dalam Sistem Pendidikan dan Pembangunan Nasional, Surabaya: CV Usaha Nasional. 1981.
Holstein, Hermann, Murid Belajar Mandiri, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1994.
Joesoef, Soelaiman, Pendidikan Luar Sekolah, Surabaya: CV Usaha Nasional, 1981.
Lasa, Manajemen Perpustakaan, Yogyakarta: Gama Media, 2005.
____, Pengelolaan Terbitan Berkala, Yogyakarta: Kanisius, 1994.
Milburga, C. Larasati, Membina Perpustakaan Sekolah, Yogyakarta: Kanisius, 1997.
Mudhoffir, Prinsip-Prinsip Pengelolaan Pusat Sumber Belajar, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1992.
Musfiroh, Tadkiroatun, Membuat Anak Gemar Membaca, makalah, Yogyakarta: Balai Kunti Wanita Tama, 2007.
Noerhayati, Pengelolaan Perpustakaan Jilid 2, Bandung: PT Alumni, 1988.
Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Cemerlang, cetakan pertama, tanpa tahun.
Undang-Undang Dasar 1945 dan Amandemennya, Surakarta: Pustaka Mandiri, tanpa tahun.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: