Tanpa Judul

Juni 2, 2008 pukul 1:26 am | Ditulis dalam Cerpen | Tinggalkan komentar

SEORANG pengemis tua berdiri diam.
Wajahnya penuh kerut kemerut oleh garis-garis derita, dan hidup papa.
Semuanya kumal pada dirinya: ikat kepalanya yang lusuh hitam, baju dan celananya, ya, seluruh dirinya kumal dengan penderitaan. Penderitaan yang nelongso. Tangan kanannya terkulai. Tangan yang terkembang ingin menadah belas kasihan, tapi sudah lemas tak berdaya. Seumur hidupnya ia menadahkan tangan, mulut komat-kamit, minta sumpalan perut dan minta sambungan nyawa.
Disampingnya, seorang pelukis berkelibut. Sibuk bekerja. Seperti ahli membersihkan kecomberan. Sama kumalnya dengan sang pengemis. Ia sebagai orang sedang berkelahi dan bergumul dengan lembaran kertas di hadapannya. Bahan-bahan melukis amat sulit di dapat ketika itu. Terutama cat minyak dan kain kanvas. Ia mempergunakan cat air. Tube-tube yang sudah kempis digoreskannya langsung ke atas kertas. Telapak tangannya gesit menyapu dan menggosok. Yang genius, membuat garis-garis, menyapu warna. Dan tangan-tangan itu pula kemudian, menciduk air dari ember besar di sampingnya. Dilontarkan dan disimbahkan ke atas kertas yang dikerjakannya. Sekelilingnya air membecek, air bercampur warna hitam, coklat, hijau dan kuning, yang meleleh dan mengalir dari lukisan yang dia. Affandi, sang pelukis, benar-benar sebagai orang yang tengah membersihkan kecomberan. Menggali, mengeruk lumpur, membuat tanggul dengan tube cat, dan mengumbahnya dengan air. Mulutnya terbuka, emosinya meluap-luap. Selunth tubuhnya bergetar. Memindahkan sang pengemis ke atas kertas. Memindahkan derita dan hina papa hidup.

Kurang lebih dua jam sang pengemis sudah pindh ke kertas Yang besar panjang itu. Sang pelulds sebagai kehabisan teaaga, tapi wajahnya berpendar-pendar, matanya Yang agak sipit itutmermanik-manik.

Lukisan Sang Pengemis siap sudah!

Ini te~adi pada akhir tahun 1946.

Di sebuah rumah petak kecil Yang terietak di tepiJalan Gendingan. Di Yogyakarta, ibukota Negara Republik Indonesia lung baru diproklamirkan dan penuh semangat pe~juangan dan pertempuran mempertahankan kemerdekaannya. Manusia Yang lewat 6 jalan raya, tertegun sebentar melihat, atau berdiri di depan pintuny a. Mehhat sang pengemis. Kereta api Yogya-Bantul di depan rumahitu, lewat dengan biting dan ribut. Penuh dengan penumpang: rakyat iecil, bakul-bakul, petani, atau pegawai kecil. Laskar4askar dan pasukaE.p asukan pemuda dan rakyat, dalam keadaan siap siaga, siap tempuf, dalain pakaian apa saja Yang mereka miliki. Juga prajurit-prajurit rientara National Indonesia selalu siap tempur, dalam pakaian yaq -belum seragam bentuk dan wamanya. Semuanya bergelora dengan w-nangat revolusi Yang menyala-nyala.

“Ini, Pfl” kata Soedarso, kepada Affandi, seteli sang pengemis berlalu dengan dibekali nasi tempe dan uang ORI beDberapa rupiah.

“Ini tiga anak muda, dari Sumatera, mau kenalan wma Papi,” kata Soedarso Yang hitam, krempeng.

“0, ya, Yang tinggal di sanggar SIM, di Alun-alun?”

“Kami datang ke Yogya, mau belajar melukis. DiMiLedan tidak ada guru tempat belaJar.”

“Lusa ada model di sanggar. Ikutlah melukis. I)i :sana ada Zami, ada Nashar ada Sasongko, Trubus, Wakidjan. Kita melulkis rame-rame.”

Kami, tip anak Sumatera, Yang jauh-jauh metymberang lautan, menerobos blokade Belanda, Yang sejak tadi mehhalAffandi melukis sang pengemis, agak kecewa dalam hati. Lukisan Affmdi dan caranya melukis, amat jauh- bedanya. dari apa Yang ada dalan tbayangan kami. “Model” seorang pelulds waktu itu, ialah tokoh Oatsuki Abdullah.

dalam kamar studio Yang cerah, dan berpakaian jaket putih (,pbagai dokter! Tapi Affandi cuma’ pakai celana Yang sudah

bal dengan cat. Celana Yang fungsinya sebagai celana, juga

kain lap untuk’tangannya Yang beflepotan cat! la tidak mempensil atau kwas, tapi tangan dan jari. Malah gagang kuas

tkannya ke kertas atau kanvas.

orangnya pendiam, tidak banyak bicara. Tapi penuh ke

Tangan Yang diulurkannya bersalaman, amat lembut dan ~~boabatan. Tangan Yang begi~u ganas dan rusuh mencakar Affandi tidak punya studio. Studionya, di mana saja ada

*** 1 j4 terutama di alam terbuka, di luar rumah. Kepada tamu pun

W~ tttbk dapat menyuguhkan apa-apa. Gelas cuma ada dua. Sama melarataya dengan sang pengemis yangjadi modelnya.

~.Auangan rumahnya di Gendingan itu penuh dengan lukisan. Self’Poww”, duduk di kursi, telanjang bulat melihati. Atau selfpotret Aeouso Yang berdiri, juga telanjang bulat.

Affandi, Maryati, orang Yang senang bercerita.

Kotanya, “Ya, itu memang Papi, telanjang bulat, sedang melukis. Memau& dulu pada suatu hari, mereka tiga orang tiba-tiba jadi gelo. Papi, Darso dan Hendra dengan isterinya. Mereka telanjang bulat di *A,~-=eveka melukis. dirii Papi dan Darso. Hendra melukis isterinya.

E”st-miipatnya pada telanjang semua.”

n

A*Wkislah banyak-banyak ” kata Affandi, “model Yang pah g

VAUiW~ Jidak usah bayar, ialah’isteri, anak, dan diri sendiri. Tadi saya VOM& pengemis karena kas&an* melfhat kemelaratannya. Setiap hwi lalewat depan rumah, dan berhenti menadahkan tangan, mintandnJL Tapi saya belum. puas denp-n lukisan saya ini. Saya merasa b0hun’dapat melukiskan si pengemis itu. Kadang-kadang timbul dalam h3d says, ingin bergelandangan seperti si pengemis, bedalan dari pintu klt’Pintu, mengernis seperti pengemis sungguh-sungguh.”

T-Alw Papi sih memang gila,” kata Bu Affandi, mengernyitkan

hiduapya. “Dulu pemah Papi mengajak saya hidup jadi pengemis. VAR* SU itu? Lalu datang lagi pikiran gilanya. Dia kepingin beli clkar ** ‘,Jptobak, Yang dihela kuda atau sapi. Cikar itu mau didandaninya

i”.”O’Unah. Maunya Papi, senang hidup gelandangan ke mana saja
dibawa cikar dan sapi, sambil melukis sepanjang jalan. Tapi cikar dan sapi kan tidak tprbeh!”

Kami, tiga anak Sumatera, Daoid Jusuf (sekarang Dr. Daoed Jusuf), Sam Suharto (almarhurn wartawan ex-Indonesia Raya) dan saya sendiri, Yang diperkenalkan pertama kaft oleh Soedarso kepada Affandi di tengah gempitanya revolusi, merasa arnat kecil berdampingan dengan pelukis-pelulds Yang bekerja di sanggar SIM. Sanggar Yang terletak di Alun-alun Utara Yogyakarta. Sebuah pendopo kecil, diserahkan oleh keraton pada para pelukis untuk tempat bekerja dan berkumpul ‘ Di depan sanggar tumbuh beberapa pohon beringin. Di bawah beringin itu andong-andong Yogya Yang terkenal lamban seenaknya, ditambatkan. Depan sanggar merupakan “terminal andong”. Terminal Yang penuh bekas-bekas makanan dan tumpukan-tumpukan tai kuda.

Ketika pada tahun 1946, suasana kota Jakarta rnitkin panas dan gawat dengan teror tentara Nica Yang berlindung di bawah pasukan Sekutu Yang bertugas, maka Pusat Pernerintahan Negara Republik Indonesia Yang baru diproklamirkan, dipindahkan ke kota Yogyakarta. Bersamaan dengan pindahnya kepala negara dan para menteri, ikut serta mengungsi para seniman menuju ibukota Republik Yang baru.

Sebaik sampai di Yogyakarta, Affand bersama pelukis-pelukis Soedarso dan Hendra, pada mulanya mendirikan sebuah -kumpulan pelukis bernama “Seniman Masyarakat”. Tak lama kemudian, dengan hadirnya para pelukis lain, seperti S. Sudjojono, Abdul Salarn, Harijadi, Sudiardjo, Setiyoso, Besuki Resobowo, Kartono Yudhokusumo dan para pelukis Yang dulu pemah bergabung dalam ‘Tersagi” di Jakarta, maka dibentuklah “Seniman Indonesia Muda” (SIM), Yang ruang lingkupnya nierangkum berbagai bidang kesenian lain, di samping seni rupa. Seperti: seni suara, Yang dipimpin oleh Kusbini si Buaya Keroncong; seni sastra dengan diketuai oleh T. Soemardjo. Juga bidang seni tari. Tujuan utaxna, di samping bekeda dan berkarya, juga ikut “bertempur di front depan” dengan seni dan budaya. Seperti melukis langsung ke front depan: Krawang Bekasi, Mojokerto, Salatiga; membuat poster-poster revolusi; dan mengiriinkan pelukis-pelukis ke daerah lain untuk melukis dan membuat poster-poster revolusi dan peduangan. Dengan Outusah bersama, “Seniman Masyarakat”, dilebur

SIM (Seniman Indonesia Muda)
SIM Yang penuh tai kuda, mau tak mau menjadi -pusat
masyarakat. Juga pediatian orang-orang asing Yang datang

Yogyakarta. Duta-duta, dan terutama wartawan-wartawan
ri, mau tidak mau, harus berkunjung ke sanggar. Negara Repu-
masih muda ketika itu, belum mempunyai duta-duta di luar
‘Aarena belum diakui dunia, mas& dalam perjuangan dan per-

merebut dan rnempertahankan kehadirannya. Tapi “Duta-

W~’ I

$egara Republik Indonesia Yang tidak resmi, telah hadir di

Wartawan asing atau dutaasing, membawa karya-karya

il~ej4kis ke negerinya, dan dunia luar jadi tahu, bahwa Indonesia ]-melukis. Karya-karya seniman di Indonesia tidak kalah hebat

bderennya dari karya-karya seniman di bagian bumi mana pun

infl. Lukisan-lukisan Affandi, Soedarso, S. Sudjojono dan

diboyong ke London, ke Negeri Belanda. Lukisan-lukisan

~~dlgirap dengan cat minyak hanya di atas kertas Padalarang.
J~ain kanvas amat su lit didapat pada masa itu.

-wartawan asing dan duta-duta asing mehhat sendiri, bagai

*”*A, Pelukis bekerja di sanggar. Di samping melukis, juga mem-

“4.oster-poster. Dan terus terang jdapat dikatakan, orang-orang
“m y, datan dup bagi pelukis-pelukis.

~ ,,A

4ng, g ini, merupakan sumber hi

OW.4midsh bahagianya Tanah Indonesia karena presiden pertama a Bung Karno adalah pencinta lukisan dan pencinta pelukis.

njual” karya-karya,

,:,,,,,Oresjdennya, banyak para pelukis “me

*w_ pins ditugaskan membuat lukisan4uldsan para.pahlawan tanah

dr”Wk istana kepresidenan. Juga Kernentrian Penerangan ketika itu,

lr”W-w para pelukis mengabadikan pertempuran dan revolusi di

Di samping bantuan-bantuan materiiI dan moril dari tan

si Yang disebut “Biro Pejuangan”. Bantuan materiil, inggaran belanja sanggar dan pelulds, dan kain blacu untuk SIM diakui sebagai sebuah “Badan Perjuangan”

tXPA1,61 ‘*,Mapun dahsyataya dan gernpitanya pertempuran di front

di seluruh Tanah Air, para pelulds di sanggar SIM mernang thak masyarakat dan anak rakyat. Bila tidak berangkat ke

dengan senjata cat dan pensil, mereka kembali ke markas
masing-masiRg: jadi rakYat biasa, kembali pada asahiya. Jadi anak Indonesia Yang menjadi satu dengan tanahnya, dengan airnya, dengan lumpumya dan dengan kesulitan dan. kernelut hidupnya. Menjadi satu kembali dengan lumpur di pasar-pasar, dan jadi satu dengan tai kuda andong.

Di sanggar SIM, tidak “diajarkan” cara melukis. Tidak ada Yang

menggurui. Di sana hanya ada bimbingan. Tidak ada suatu keharusan, melukis itu harus begini atau begitu. Lebih diutamakan penggemblengan pribadi dan penernuan watak. Sesuai dengan gagasan S. Sudjojono via “Persagi” pada tahun 30-an, Yang non-akademik, dan “mencari corak baru seni lukis Indonesia”. Biarpun demikian, S. Sudjojono menganjurkan kepada anak-anak baru, agar mempelajari sendiri anatomi, garis dan bentuk, hingga menguasainya. Kata-katanya arnat tegas dan meyakinkan: “Jangan pikirkan atau persoalkan isme-isme aliran seni lukis, besok kamu akan mengerti sendiri. Tapi menggambarlah! Menggambar apa saja Yang ada di sekelflingrnu. Meja, kursi, tegel,’ batu, daun, tai kuda! Kalau kamu dasarnya memang seorang pelukis atau seniman, tangarunu tidak akan mau diam. Dia akan terus menggambar, atau bikin sketsa. Juga alat bukan hambatan bila tidak dimiliki. Kalau ada cat, melukislah dengan cat dan kanvas. Tidak ada kanvas, di kertas juga boleh. Kalau tidak ada cat, menggambarlah dengan tinta. Tidak punya tinta pakai potlot. Tidak punya potlot, dan kertas, gambarlah di atas tanah, dengan kayu atau jari! Kalau kamu dasarnya bukan seniman, mundur saja dari sekarang. Cari keda jadi kerani atau pedagang, daripada besok kena tbc.”

Affandi Yang fidak banyak bicara, cuma berkata, “Menggambar dan.bekelalah, banyak-banyak. Tidak perlu tunggu inspirasi. Ke~a itulah inspirasi!” atau Soedarso, Yang orangnya juga pendiam, Yang cuma berkata bila ada seorang anak muda meminta pendapat mengenai lukisannya: “Ini belurn baik. Itu sudah mulai baik. Menggambarlah sebaik-baiknya!”

Para pelukis di ibukota Republik masa itu, beke~a sebagaimana

mereka berkata. Tidak ada cat tube, melukis dengan cat pintu pun
dapat. Tidak ada kain kanvas, dapat melulds di atas kertas, atau me-

kain batik isterinya Yang sedang dipakai. Kertas merang kasar n jadi.

waktu itu, di sanggar SIM, Yang dimasukkan dalam barisan 4- gi- elukis, adalah seperti misalnya: A. Wakidjan, Sasongko, p

SupWO1, Derachman, banyak lagi nama-nama Yang sekarang telah “.pelukis. Juga kami, ketiga anak dari Sumatera, termasuk “boZaini Trubus, Nashar, Syahri, sudah ditingkatkan pada tangga c

‘lWds muda”. Pelukis Yang paling atas, adalah S. Sudjojono, Affandi,
larso, Hendra, Soeromo, Soerono, Ramli, Sutiyoso, Soediardjo,

. j

41-,

o Yudhokusumo, Roesli, T. Sumardjo, Sunindiyo, Abdul Salam.

Resobowo, Oesman Effendi, Kusnadi dan lain-lain. “Tingkatan”

skan oleh S. Sudjojono, dengan alasan, bahwa “kita sendiri”

lah Yang dapat menilai seniman kita, bukan orang luar negeri! “Ter

i4~juk”4ah sebutan “Pelukis Kelas Satu”, “Kelas Dua”‘ dan “Kelas

Bila masa kini, dapat disamakan dengan sebutan “Pelukis

“Pells Muda” dan ‘Telukis Kader”. w

Wa`m’a-nama pelukis senior di atas, adalah sebagian besar nama

nama , ,, dad Persaji. Kecuali, Affandi, Soedarso, dan Hendra. Pada

jaman. pendudukan balatentara Dai Nippon, pelukis dan seniman di

Jak” ditampung dalam satu wadah: “Keimin Bunka Shidoso”.

Termasiik sastrawan, komponis: antara lain Usmar Ismail, Chairil

An*at, C. Simanjuntak, dengan tujuan membantu Perang Asia untuk

ba~oa Asia. Kernudian para seniman diwadahkan dalam “Poetra”

Yft’digembleng oleh Bung Karno, Ki Hajar Dewantoro dan lain

lai64~ttjil semangat nasional.

‘*I~idi benar-benar seorang pelukis otodidak. la tidak bisa kerja
1AM . -daripsida menggambar dan melukis. Se ak ia ada di dunia ini. la
JUnia seni lukis dengan merangkak, berseorang diri. la ke-
bel ar pada seorang pelukis atau seorang guru gambar, supaya
niengjambar. Tapi dia tidak bernasib mujur, menikmati sekolah
Atau pelaJaran dari seorang guru gambar. Sejak tamat AMS
_Ongan tingkatan SMA sekarang), ia meminta pada kakaknya,
agar dia boleh belajar menggambar di Akademi Gambar di
Wanda. Tapi sang kakak, ingin dia melihat jadi Ir. atau sa~ana
kaft kedudukannya lebih terhormat daripada seorang kuli cat

174 7
yang kotor. Lalu, Affutdi, menempuh jalan hidupnya sendiri, menceburkan diri dan hidupnya dalam dunia seni lukis. Berseorang diri: tanpa guru, tanpa bimbingan. la kepingin belaJar pada Basuld Abdullah, yang pada tahun-tahun menjelang Perang Pasifik arnat disanjung oleh pers Belanda, dan arnat dimashurkan sebagai seorang pelukis yang pintar, akademik. Pelukis Basuki Abdullah, yang justru dffiantam habis4iabisan oleh S. Sudjojono, sebagai “pedagang batik corak apa saja” , yang hanya dapat melukis.”Mooi Indie” untuk melayani selera orang kulit putih. Pada Basuki Abdullah ini, Affandi ingin berguru.

la mendatangi pelukis itu ke rumahnya. Di pintu disambut oleh pelayan. Affandi, tertunggu di depan pintu rumah gedong yang megah itu. Dari dalam terdengar olehnya suara sang pelukis bertanya, “Apakah tamu itu dapat berbahasa Belanda?” Dasar Affandi orang pendiam, dan agak cepat tersinggung, diam-diam dia pergi meninggalkan tempat angker itu. Walaupun dia mahir – berbahasa. Belanda! Dia mernutuskan, tidak jadi saja berguru pada pelukis Basuki Abdullah! Dia terus belajar berseorang diri, tanpa guru. Gurunya, ialah melihat-lihat lukisan di museum, atau mengunjungi pameran-pameran lukisan.

Di kota Bandung, tempat kemudian ia diam, ia mencari makan

dengan jalan menjacli guru tidak tetap, -atau membikin merek toko,
dan malarn hari jadi penjaga pintu bioskop. Kemelaratan hidupnya

adalah kemelaratan manusia Indonesia yang pada waktu itu, hidup dengan segobang sehari. Segobang, ialah dua setengah sen! Bandung waktu jaman tiga puluhan, telah mempunyai beberapa pelukis terkenal dan laris. Di antaranya, Barli, Wahdi, Abedi dan Sukardji. Juga niat Affandi untuk berguru pada salah seorang pelukis ini, gagal. Karena orang terkenal jaman itu, terlalu angker untuk orang setingkat Affandi..

Makanya ia betalan sendiri. la tidak dapat hidup lain daripada

menggambar dan melukis! Tentu saja dia tidak dapat hidup dari has~ penjualan lukisan-lukisannya, seperti misainya pelukis Wahdi, Barli dan lain4ain. la sebagai seorang yang terpencil, tapi penuh daya ke~3 dan kreatif. la melukis, dimulai dengan.potlot. Belajar anatomi, dengo arang. Hitam putih. Kemudian, meloncat selangkah lagi: melukis dengan konte coklat, dan cat warna coklat. .

la amat taat, belum berani memakai warna-warna. Setelah mengu’

,*Io&an4at&an dengan warna coklat, barulah ia berani berpindah

memakai warna. la melukis dhinya di depan cermin, melukis
welukis anaknya, Kartika yang masih kecil. Atau melukis
Memang, sernuanya itu merupakan “model” yang teramat

k

n

a

k a

h s s t

praktis.

kemelaratan dan derita hidup jadi teman akrab sepanjang ia tidak ambil pusing. Dalam masa-masa membentuk dan

demikian, ia masih sempat memberikan doroRgan pada orang m jadi pelukis. Pada suatu hari, ada langganannya yang meOrangnya baru tukar. Pengantar susu ini agak aneh.

botol susu. di pintu. ia tidak terus pergi.

0 j&;habis menyerahkan

1~~~sqja dengan matanya yang sayu. Memperhatikan dan melihat Aff”-, yang sedang melukis. Begitu asyiknya ia melihat, hingga kad”g*Admg ia 1upa pada peke~aannya mengantarkan susu. Pada suatu h4t*&,atalah si pengantar susu itu: “Gan ‘ say’a kepingin dapat meng0040, seperti Juragan. Bolehkah saya belajar menggambar, ikut J000″Affandi tidak banyak ornong. la memberikan tube-tube cat pada si pengaptar susu, dan menyuruhnya melukis di aqjp*; Deberapa hari si pengantar susu tidak muncul di depan pintu AIW- Susu diantarkan olch pengantar baru. Beberapa hari kernudian bw”-, muncul si pengantar yang kepingin belajar melukis itu. Dia

,4enVm semangat dan riang, membawa lukisan-lukisan yang
rumah. Affandi kian menambah semangatnya, untuk
OW’,30448garnbar. Sejak itu Aff , andi dengan tukang pengantar susu

PPJAd,konco dan kawan sejalan hidup. Pengantar susu itu, ber0106darso, pelukis Soedarso sekarang.

dian, Affandi didatangi seseorang untuk belajar melukis, ia fidak pemahjadi “guru menggambar”. Orang yang kedua

Hendra. Tapi hubungan mereka bukan sebagai guru dan %W langsung jadi konco atau kolega, satu jabatan. Ketiga

tidak pernah sekolah atau mendapatkan seorang guru gamdikata,kan, mereka saling belajar dan saling berguru. Seyang mencari dan merangkak. Mereka berkelompok J41an Wangsareja, Bandung; di mana juga tinggal seorang bemama Toerkandi. Plada tukang gambar inilah biasa

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: