INTROPEKSI DI BALIK WAJAH AFFANDI

September 24, 2008 pukul 3:18 am | Ditulis dalam Politik | Tinggalkan komentar
Tag:

Pemahanian kita tentang lukisan-lukisan Affandi ternyata masih terbatas pada usaha memahami gayanya yang ekspresionistis – cara ia melukis, kondisi emosinya ketika melukis, kategorisasi perkembangan gayanya dan tema dalam lukisan-lukisannya. Masih sangat kurang upaya mengkaji nilai-nilai yang lebih mendasar di balik lukisan-lukisan Affandi.
Tapi penggalian nilai-nilai itu memang upaya musykil. Affandi bukan seniman yang bisa menguraikan acuan seni lukisnya. Ia bahkan jarang bicara tentang lukisannya. Karena itu, betapa pun kuatnya ekspresi Affandi tampil sebagai fenomena estetik, tidak mudah mendapat konfirmasi ketika fenomena estetik itu mau diteguhkan sebagai buah renungan.
Saya pernah mencoba mendapat konfirmasi itu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk sebuah penulisan, menjelang pameran retrospekstifnya pada tahun 1987. Namun tidak banyak yang saya dapat. Ia, antara lain, menolak anggapan yang paling sering dilontarkan untuk mengkaji nilai-nilai di balik lukisannya, yaitu ia seorang humanis. “Saya selalu ingin menjadi humanis, tapi tidak punya kemampuan. Yang saya punya cuma perasaan sentimentil, cinta pada orang.”
Kendati ia sering melukiskan manusia dan berbagai masalah di baliknya, Affandi menyatakan tak punya pendapat tentang masalah eksistensi manusia. Ia bahkan mengatakan punya kecenderungan untuk tidak berpendapat karena berpendapat akan selalu punya resiko untuk berberja pendapat dengan orang lain, “Padahal saya tidak mau menyakiti perasaan orang lain,” katanya.
Perkiraan saya yang dibenar¬kannya, manusia dalam karya-¬karyanya adalah “manusia di tengah alam,” atau bagian dari alam. “Saya sebetulnya seorang naturalis sejati,” katanya tegas. “Saya cinta pada semua yang natural.”
Continue Reading INTROPEKSI DI BALIK WAJAH AFFANDI…

Iklan

AGAMA SHINTO (Sejarah dan Ajarannya)

September 24, 2008 pukul 3:15 am | Ditulis dalam Agama | Tinggalkan komentar

Agama Jepang biasanya disebut dengan agama Shinto. Sebagai agama asli bangsa Jepang, agama tersebut memiliki sifat yang cukup unik. Proses terbentuknya, bentuk-bentuk upacara keagamaannya maupun ajaran-ajarannya memperlihatkan perkembangan yang sangat ruwet. Banyak istilah-istilah dalam agama Shinto yang sukar dialih bahasakan dengan tepat ke dalam bahasa lainnya. Kata-kata Shinto sendiri sebenarnya berasal dari bahasa China yang berarti “jalan para dewa”, “pemujaan para dewa”, “pengajaran para dewa”, atau “agama para dewa”. Dan nama Shinto itu sendiri baru dipergunakan untuk pertama kalinya untuk menyebut agama asli bangsa Jepang itu ketika agama Buddha dan agama konfusius (Tiongkok) sudah memasuki Jepang pada abad keenam masehi.
Pertumbuhan dan perkembagan agama serta kebudayaan Jepang memang memperlihatkan kecenderungan yang asimilatif. Sejarah Jepang memperlihatkan bahwa negeri itu telah menerima berbagai macam pengaruh, baik kultural maupun spiritual dari luar. Semua pengaruh itu tidak menghilangkan tradisi asli, dengan pengaruh-pengaruh dari luar tersebut justru memperkaya kehidupan spiritual bangsa Jepang. Antara tradisi-tradisi asli dengan pengaruh-pengaruh dari luar senantiasa dipadukan menjadi suatu bentuk tradisi baru yang jenisnya hampir sama. Dan dalam proses perpaduan itu yang terjadi bukanlah pertentangan atau kekacauan nilai, melainkan suatu kelangsungan dan kelanjutan. Dalam bidang spiritual, pertemuan antara tradisi asli Jepang dengan pengaruh-pengaruh dari luar itu telah membawa kelahiran suatu agama baru yaitu agama Shinto, agama asli Jepang.
Continue Reading AGAMA SHINTO (Sejarah dan Ajarannya)…

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.