Tanpa Judul

Juni 2, 2008 pukul 1:26 am | Ditulis dalam Cerpen | Tinggalkan komentar

SEORANG pengemis tua berdiri diam.
Wajahnya penuh kerut kemerut oleh garis-garis derita, dan hidup papa.
Semuanya kumal pada dirinya: ikat kepalanya yang lusuh hitam, baju dan celananya, ya, seluruh dirinya kumal dengan penderitaan. Penderitaan yang nelongso. Tangan kanannya terkulai. Tangan yang terkembang ingin menadah belas kasihan, tapi sudah lemas tak berdaya. Seumur hidupnya ia menadahkan tangan, mulut komat-kamit, minta sumpalan perut dan minta sambungan nyawa.
Disampingnya, seorang pelukis berkelibut. Sibuk bekerja. Seperti ahli membersihkan kecomberan. Sama kumalnya dengan sang pengemis. Ia sebagai orang sedang berkelahi dan bergumul dengan lembaran kertas di hadapannya. Bahan-bahan melukis amat sulit di dapat ketika itu. Terutama cat minyak dan kain kanvas. Ia mempergunakan cat air. Tube-tube yang sudah kempis digoreskannya langsung ke atas kertas. Telapak tangannya gesit menyapu dan menggosok. Yang genius, membuat garis-garis, menyapu warna. Dan tangan-tangan itu pula kemudian, menciduk air dari ember besar di sampingnya. Dilontarkan dan disimbahkan ke atas kertas yang dikerjakannya. Sekelilingnya air membecek, air bercampur warna hitam, coklat, hijau dan kuning, yang meleleh dan mengalir dari lukisan yang dia. Affandi, sang pelukis, benar-benar sebagai orang yang tengah membersihkan kecomberan. Menggali, mengeruk lumpur, membuat tanggul dengan tube cat, dan mengumbahnya dengan air. Mulutnya terbuka, emosinya meluap-luap. Selunth tubuhnya bergetar. Memindahkan sang pengemis ke atas kertas. Memindahkan derita dan hina papa hidup.

Continue Reading Tanpa Judul…

Iklan

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.