INTROPEKSI DI BALIK WAJAH AFFANDI

September 24, 2008 pukul 3:18 am | Ditulis dalam Politik | Tinggalkan komentar
Tag:

Pemahanian kita tentang lukisan-lukisan Affandi ternyata masih terbatas pada usaha memahami gayanya yang ekspresionistis – cara ia melukis, kondisi emosinya ketika melukis, kategorisasi perkembangan gayanya dan tema dalam lukisan-lukisannya. Masih sangat kurang upaya mengkaji nilai-nilai yang lebih mendasar di balik lukisan-lukisan Affandi.
Tapi penggalian nilai-nilai itu memang upaya musykil. Affandi bukan seniman yang bisa menguraikan acuan seni lukisnya. Ia bahkan jarang bicara tentang lukisannya. Karena itu, betapa pun kuatnya ekspresi Affandi tampil sebagai fenomena estetik, tidak mudah mendapat konfirmasi ketika fenomena estetik itu mau diteguhkan sebagai buah renungan.
Saya pernah mencoba mendapat konfirmasi itu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk sebuah penulisan, menjelang pameran retrospekstifnya pada tahun 1987. Namun tidak banyak yang saya dapat. Ia, antara lain, menolak anggapan yang paling sering dilontarkan untuk mengkaji nilai-nilai di balik lukisannya, yaitu ia seorang humanis. “Saya selalu ingin menjadi humanis, tapi tidak punya kemampuan. Yang saya punya cuma perasaan sentimentil, cinta pada orang.”
Kendati ia sering melukiskan manusia dan berbagai masalah di baliknya, Affandi menyatakan tak punya pendapat tentang masalah eksistensi manusia. Ia bahkan mengatakan punya kecenderungan untuk tidak berpendapat karena berpendapat akan selalu punya resiko untuk berberja pendapat dengan orang lain, “Padahal saya tidak mau menyakiti perasaan orang lain,” katanya.
Perkiraan saya yang dibenar¬kannya, manusia dalam karya-¬karyanya adalah “manusia di tengah alam,” atau bagian dari alam. “Saya sebetulnya seorang naturalis sejati,” katanya tegas. “Saya cinta pada semua yang natural.”
Continue Reading INTROPEKSI DI BALIK WAJAH AFFANDI…

MUHAMMADIYAH DAN NU :SIAPA LEBIH MAJU ? (Suatu Kajian Perbedan dan Persamaan antara Keduanya serta Cara-cara yang Positif untuk Mengurangi Perbedaan)

Juni 2, 2008 pukul 1:01 am | Ditulis dalam Politik | Tinggalkan komentar

Meminjam istilah Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA., pada judul di atas sengaja penulis angkat, bukan untuk mempertajam perbedaan, atau untuk mengundang konflik dan pertikaian tajam, namun semata-mata untuk membuka cakrawala berpikir kita, memahami keberagaman sekaligus agar memiliki daya tarik tersendiri. Sebab ketika penulis mencoba mewawancari salah seorang pengurus cabang Nahdhotul Ulama tentang tema NU dan Muhamamdiyah, beliau menyampaikan bahwa antara NU dan Muhammadiyah tidak menarik lagi untuk didiskusikan, sebab menurut beliau antara NU dan Muhammadiyah tidak ada masalah lagi, bahkan kalangan pengurus pusat baik NU maupun Muhammadiyah sudah nampak rukun, bergandengan tangan, bahkan harmonis, walaupun di akar, rumput atau pada masyarakat bawah kadang kala masih terjadi sedikit perbedaan. Hal tersebut perlu dipahami dan dimaklumi karena memang NU dan Muhammadiyah mempunyai perbedaan baik latar belakang kelahirannya, basis massanya, maupun cara dalam penetapan dan pemahaman hukum.
Tidak diragukan lagi, bahwa Muhammadiyah dan NU merupakan organisasi terbesar di Indonesia. Continue Reading MUHAMMADIYAH DAN NU :SIAPA LEBIH MAJU ? (Suatu Kajian Perbedan dan Persamaan antara Keduanya serta Cara-cara yang Positif untuk Mengurangi Perbedaan)…

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.